Putririnjani005's Blog

Just another WordPress.com weblog

Mengenal Edelweiss…

Orang-orang mungkin jarang mendengar mengenai tumbuhan dengan nama latin  Anaphalis javanica. Tapi bagaimana dengan edelweiss? Pasti sudah sering mendengar nama tanaman edelweiss, atau yang sering disebut-sebut sebagai “bunga abadi”. Anaphalis javanica lebih popular dengan sebutan edelweiss jawa (Edelweiss javanica). Pertama kali melihat tanaman ini, rasanya unik. Bunga nya kecil-kecil, cantik, dan tak pernah layu. Edelweiss merupakan family dari sunflower. Kata edelweiss berasal dari bahasa Jerman “edel” yang berarti mulia, dan “weiss” yang berarti putih.

Anaphalis javanica merupakan tumbuhan endemic zona alpine/Montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara.  Tanaman ini dapat tumbuh dengan ketinggian 8 meter, dan memiliki batang sebesar kaki manusia, walaupun pada umumnya tingginya tidak lebh dari 1 meter. Tumbuhan cantik ini sekarang dikategorikan menjadi tumbuhan langka. Jangan salah, di Eropa pun ternyata ada juga edelweiss. Nama latin nya adalah Leontopodium alpinum. Edelweiss jawa termasuk tanaman endemic dan langka, berbentuk semak dengan bungan yang berumpun. Sedangkan edelweiss eropa bunganya tidak berumpun. Akan tetapi dua-duanya mempunyai kesamaan yaitu sama-sama cantik.

Leontopodium alpinum merupakan salah satu tumbuhan gunung eropa yang terkenal. Nama Leontopodium berarti cakar singa yang berasal dari bahasa Yunani “Leon” (berarti singa) dan “podion” (berarti  kaki). Daun dan bunganya ditutupi bulu-bulu putih seperti wool. Tangkai bunga edelweiss dapat tumbuh dari ukuran 3-20 cm menjadi 40 cm. Masing-masing bunga terdiri dari 5-6 kepala bunga kuning kecil (5mm), dikelilingi oleh daun-daun muda menjadi bentuk bintang. Bunga ini akan berkembang antara bulan Juli-September. Tumbuhan ini penyebarannya bervariasi, akan tetapi lebih sering dijumpai di daerah berbatu dengan ketinggian 2000-2900 m. Tumbuhan ini tidak beracun, bahkan sering dipakai dalam pengobatan tradional untuk mengobati perut dan pernafasan. Bulu-bulu tebal yang muncul merupakan adaptasi dari ketinggian tempat, dan melindungi tumbuhan dari dingin, kering, dan dari radiasi UV.  Karena tumbuhan ini tumbuh di daerah yang sulit dijangkau, maka di beberapa Negara bagian alpen, tumbuhan ini dihubungkan dengan pendakian gunung.

180px-Leontopodium_alpinum_detail Leontopodium alpinum

Leontopodium alpinum

Klasifikasi Ilmiah

Edelweiss Jawa Edelweiss Eropa
Kerajaan

Plantae

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Ordo

Asterales

Famili

Asteraceae

Bangsa

Gnaphalieae

Genus Anaphalis Leontopodium
Spesies A.javanica L.alpinum
Nama Binomial Anaphalis javanica Leontopodium alpinum

Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan serta mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya.

Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Bahkan yang lebih ironis adalah orang-orang yang mengaku sebagai pecinta alam memetik edelweiss sebagai sebuah pembenaran bahwa dirinya telah mencapai puncak gunung. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi. Akan  tetapi pemetikkan ini harus tetap disadari. Bagaimana tidak, satu pendaki memetik 1 bunga edelweiss. Apabila ada 1000 pendaki maka ada 1000 edelweiss pula yang terpetik, dan populasi tumbuhan ini akan semakin langka.

Edelweiss merupakan tumbuhan yang dilindungi di beberapa Negara, seperti  Mongolia, Bulgaria, Kroasia, Switzerland, Prancis, Itali, Jerman, Spanyol (Ordesa National Park), Slovakia (Tatra National Park), Slovenia ( di  Gorizia dan Gradisca sejak 1896, di Carniola sejak 1898), Austria (sejak 1886) dan Romania (sejak 1933).

Bagaimana di Indonesia? Akankan tanaman cantik kita akan lenyap di telan tangan-tangan jahil…

Sumber ;

http://www.wikipedia.com

http://www.britannica.com

Juni 2, 2009 Posted by | adventure | Tinggalkan komentar

Manajemen Pendakian

Banyak orang tertarik dalam kegiatan alam bebas, dimana kegiatan tersebut penuh resiko dan bahaya. Adanya resiko dan bahaya tersebut tidak mengurangi antusias sebagian besar penggemar kegiatan outdoor ini, karena memang inilah yang selalu menjadi daya tarik. Walaupun demikian akan lebih baik apabila sebelum melakukan kegiatan dilakukan berbagai persiapan yang matang dan cermat, sehingga kegiatan yang dilakukan dapat terlaksana sesuai yang diharapkan dan menghindarkan berbagai hal yang tidak diinginkan.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam suatu perjalanan :

1.  perencanaan

2. pemilihan perlengkapan

3. penyusunan perlengkapan

PERENCANAAN PERJALANAN

Dalam suatu perencanaan awal diperlukan berbagai informasi mengenai lokasi yang akan dituju serta kondisi diri sendiri. Dalam perencanaan perjalanan, kita harus menentukan hal-hal seperti apa tujuan dan maksud (untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan dan perlengkapan yang diperlukan), tempat tujuan (untuk menentukan akan menetap atau akan berpindah-pindah),waktu perjalanan, perserta perjalanan (sendiri atau tim), dan transportasi.

Informasi yang perlu diketahui :

1. Pengetahuan Lokasi

Pengetahuan lokasi sangat penting dilakukan karena dapat untuk menentukan kira-kira waktu perjalanan yang akan ditempuh. Informasi tersebut dapat dilakukan dengan membaca berbagai laporan perjalanan, mencari lokasi di internet, ataupun dengan bertanya kepada orang-orang yang telah berpengalaman melakukan pendakian ke tempat tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

a. Topografi : perlu persiapan peta topografi untuk mengetahui keadaan alam lokasi, serta dapat menentukan rute perjalanan, jarak dan rute, dan perbekalan yang akan dibawa.

b. Iklim dan cuaca : pengetahuan mengenai iklim dan cuaca tidak kalah penting untuk menentukan suatu perjalanan. Banyak resiko terkait dengan cuaca terutama akhir-akhir ini sering kurang bersahabat. Tentunya kita tidak ingin membahayakan diri sendiri serta membuat orang-orang di sekitar kita khawatir.

c. Adat Istiadat

Dimana bumi dipijak disitu bumi dijunjung, demikian pepatah yang sering kita dengar. Apabila kita akan melakukan perjalanan ke suatu daerah, perlu diketahui adat istiadat daerah tersebut. Sehingga kita tidak akan menyalahi aturan yang berlaku di daerah tersebut. Jangan sampai timbul permusuhan dengan penduduk setempat.

d. Administrasi

Informasi administrasi sangat penting diketahui dalam hal pengurusan surat ijin perjalanan.

2.  Persiapan Diri Sendiri

Dari berbagai informasi yang telah dikumpulkan mengenai lokasi yang akan dituju, kita dapat menilai kesiapan diri kita dalam perjalanan yang akan ditempuh. Karena ketidaksiapan tidak hanya menghambat perjalanan tim namun dapat menggagalkan seluruh perencanaan yang telah disusun. Secara mental dan fisik, serta kemampuan dan materi harus benar-benar dikuasai. Secara mental, persoalan atau permasalahan harus segera diselesaikan, seperti misalnya kegelisahan karena belum mendapat ijin orang tua. Latihan fisik perlu untuk dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum suatu perjalanan dilakukan. Kondisi materi (keuangan) juga perlu dipersiapkan, untuk memperkirakan kebutuhan keuangan yang akan diperlukan.

PEMILIHAN PERLENGKAPAN

Dengan perencanaan yang matang dan cermat, kita mulai dapat menentukan perlengkapan apa saja yang diperlukan. Prinsip-prinsip pemilihan perlengkapan:

1) Pilihlah perlengkapan yang tepat, sesuai dengan waktu (iklim dan cuaca), lokasi dan medan yang akan dihadapi, serta kegiatan yang akan dilakukan.

2) Bawalah perlengkapan sesedikit mungkin, tetapi juga selengkap mungkin. Hal ini bukan berarti meninggalkan barang yang penting, melainkan membawa sesuai yang dibutuhkan.

3) Pilihlah perlengkapan yang ringkas, praktis, ringan, dan  pnserba guna. Misalnya nesting (satu set panci susun) sangat simple dan praktis karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti mengambil air, tempat memasak, ataupun tempat makan.

PENYUSUNAN PERLENGKAPAN (PACKING)

Setelah perlengkapan yang akan digunakan sudah lengkap dan terkumpul, barang-barang tersebut disusun ke dalam ransel yang sudah dipersiapkan. Penyusunan barang pun perlu memperhatikan beberapa hal, karena selain lebih ringkas, bentuk ransel akan rapi dan mudah untuk dibawa. Adapun yang perlu diperhatikan:

1) Barang-barang dikumpulkann dan di cek keadaan dan fungsinya, seperti senter (bolam, baterai), kompor (bocor atau tidak).

2) Barang-barang yang sudah dikumpulkan, dikelompokkan menurut jenisnya, seperti pakaian, peralatan masak, bahan makanan, dll. Setiap kelompok dibungkus dalam kantong plastik sedemikian rupa agar mudah diambil dan tidak basah apabila kena hujan atau air tumpah.

3) Cara penyusunan :

–   Barang yang diperlukan diletakkan di bagian atas (ponco/rain coat), barang yang diperlukan pada akhir perjalanan di letakkan di bagian tengah (tenda), sedangkan barang2 yang tidak diperlukan dalam perjalanan diletakkan di bagian paling bawah (pakaian ganti/sleeping bag).

–  Berat beban dibagi secara seimbang di kiri dan kanan ransel, sehingga tidak akan menyiksa salah satu bahu.

–  Barang-barang yang berat diletakkan sedekat mungkin dengan punggung.

–  Ruang-ruang dalam ransel dimanfaatkan semaksimal dan seefisien mungkin. Jangan biarkan ada ruang kosong karena hanya akan membuat beban bertambah

–  Kantong-kantong di samping ransel diisi dengan barang-barang kecil dan penting, seperti misalnya pisau lipat, senter kecil, obat-obat yang diperlukan, atau botol minuman.

–  Kantong bahan makanan diletakkan terpisah dari kompor ataupun bahan bakarnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terkena bau atau tumpahan bahan bakar.

–  Barang-barang yang mudah pecah dan tajam dibungkus agar tidak merusak ransel atau barang lainnya.

–  Hindarkan untuk menggantungkan bermacam-macam barang di luar ransel, karena akan menambah berat beban. Usahakan semua perlengkapan dapat masuk ke dalam ransel. Untuk keperluan kelompok dapat dibagi di tiap-tiap personil. Sampah jangan digantungkan di luar ransel, karena sebelumnya semua barang dapat masuk dalam ransel, jadi sesudah terpakai seharusnya juga dapat dimasukkan kembali dalam ransel.

Jangan pernah membuang sampah di lokasi. Bawalah kembali sampai turun.

Take nothing but picture

Leave nothing but footprint

Kill nothing but time

Diharapkan dengan menguasai manajemen perjalanan dengan baik, resiko dapat dimimalkan. Selain itu setiap individu diharapkan menyadari keterbatasannya. Oleh karena itu sikap mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan perjalanan adalah tindakan yang bijaksana.

April 10, 2009 Posted by | adventure | Tinggalkan komentar